Prinsip Penting Dalam HACCP
Penulis: Rio Dwisandy Studio
Produk oleh Favorite Meat Processing - Bali
Produk oleh Favorite Meat Processing - Bali
Di post sebelumnya, kita
sudah mempelajari hal dasar dari standar kebersihan sebuah
pabrik pengolahan daging. Salah satu skema atau kerangka kerja yang umum adalah HACCP. Di kesempatan kali ini, kita akan mengenal lebih dalam mengenai HACCP. Cara kerja dari HACCP juga menarik untuk disimak, apalagi karena standarisasi nya diakui secara internasional. Jadi tunggu apa lagi, langsung saja kita lihat info berikut ini.
Sudah dijelaskan sebelumnya bagaimana HACCP berfungsi sebagai pencegahan dari terjadi nya bahaya atau kegagalan di dalam produksi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada tes di tahap akhir setelah produk sudah jadi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa HACCP memilik 2 karakteristik, yaitu:
pabrik pengolahan daging. Salah satu skema atau kerangka kerja yang umum adalah HACCP. Di kesempatan kali ini, kita akan mengenal lebih dalam mengenai HACCP. Cara kerja dari HACCP juga menarik untuk disimak, apalagi karena standarisasi nya diakui secara internasional. Jadi tunggu apa lagi, langsung saja kita lihat info berikut ini.
![]() |
Pengertian HACCP. (Foto oleh Rio Dwisandy Studio) |
Sudah dijelaskan sebelumnya bagaimana HACCP berfungsi sebagai pencegahan dari terjadi nya bahaya atau kegagalan di dalam produksi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada tes di tahap akhir setelah produk sudah jadi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa HACCP memilik 2 karakteristik, yaitu:
- Pencegahan pada potensi terjadinya kesalahan dengan segera, sebelum ataupun saat produksi
- Secara eksklusif mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan resiko kesehatan konsumen
HACCP untuk pabrik
pengolahan daging memiliki beberapa elemen dasar yang mendasari setiap
instruksi dalam skema HACCP, yaitu:
- Setiap jenis produk daging dengan teknologi dan teknik yang berbeda-beda memerlukan skema HACCP nya sendiri .
- Sebelum mengimplementasikan konsep HACCP, analisa bahaya dan perkiraan resiko pada setiap teknik pengolahan yang berbeda harus dijabarkan terlebih dahulu
- Critical Control Points (Titik Pengendalian Kritis disingkat CCPs) harus diidentifikasi, batas-batas kritis harus dibuat dan sistem pengawasan juga dijalankan dengan baik.
Dari 3 elemen dasar ini,
skema HACCP dibagi menjadi 7 prinsip. Melalui ketujuh prinsip inilah pendekatan
secara praktek dijelaskan untuk mengidentifikasi potensi bahaya terhadap
kesehatan konsumen dan juga untuk mengambil tindakan dengan tujuan memperbaiki
dengan relevan .
1. Analisa bahaya dan
penilaian perkiraan resiko
Prinsip pertama membutuhkan
deskripsi dari produk secara detail, termasuk dari komposisi, tekstur/struktur,
detail pengolahan (seperti suhu pengadukan daging, bahan aditif, isi nya dan
teknik pemanasan), pengemasan dan kriteria bahan kimia dan mikrobiologi.
Saat karakteristik dari
setiap produk sudah dicatat secara detail, potensi bahaya pada kesehatan
konsumen yang terjadi saat produksi bisa diidentifikasi. Kemudian dibuatlah daftar
dimana tertera penyebab dari setiap bahaya dan hubungannya dengan proses
produksi dari jenis olahan tertentu.
Contoh bahaya dari
pengolahan daging:
Bahaya Biologis: Parasit
(menyebabkan penyakit zoonosis), bakteri (mengakibatkan keracunan makanan/
infeksi karena makanan), jamur dan virus.
Bahaya jasmani:
Tertinggalnya material yang tidak diinginkan seperti kaca, potongan tulang,
gigi hewan, pecahan besi (contohnya klip sosis, pecahan pisau, jarum), plastik
dan batu.
Bahaya kimiawi:
Kontaminasi (besi berat, komponen pembersih dan desinfektan)
Residu: obat dari hewan
ternak, aditif pakan ternak dan pestisida
Bahan aditif makanan
dengan resiko overdosis (nitrat/nitrit, bahan kimia)
2. Identifikasi Critical Control Points (CCP)
CCP bisa diterjemahkan
sebagai setiap titik atau prosedur dalam sistem makanan yang spesifik, dimana
hilangnya pengendalian bisa menghasilkan resiko kesehatan yang berbahaya. CCPs
bisa dialokasikan di titik mana saja dalam lini produksi dari produk daging
tertentu, dimana bahaya biologi, fisik dan kimiawi bisa terjadi dan bisa
dikendalikan agar tidak sampai terjadi. CCPs hanya bisa dibuat saat metode
pengendalian dan pengawasan yang baku sudah dibuat.
CCPs harus digunakan hanya untuk tujuan
keamanan dari produk. Hal lain seperti kebersihan dari pabrik daging sudah
termasuk ke dalam GHP dan bukan hal yang spesifik pada produk, tidak termasuk
pada CCPs. Hal-hal yang langsung berhubungan pada pengolahan daging dan sesuai
dengan CCPs adalah:
- Tempat bongkar muat untuk bahan material mentah (bahan daging dan bukan daging)
- Ruang penyimpanan beku
- Fasilitas pemotongan daging dan persiapan
- Fasilitas penyerahan bahan tambahan yang bukan daging
- Unit penghancuran daging (grinder, bowl choppers, dll.)
- Peralatan untuk filling dan casing (memasukan daging ke dalam kemasan pelindung daging)
- Fasilitas pemanasan (smokehouses, cooking vats, autoclaves),
- Peralatan pengemasan dan material nya (termasuk pengalengan)
- Penyimpanan dingin untuk produk akhir
Tergantung pada setiap
pabrik pengolahan daging untuk memutuskan di titik mana CCPs harus dibuat. Hal
ini akan beragam dari setiap pabrik, tergantung dari tata letak peralatan, tipe
produk dan juga pengalaman kecelakaan yang pernah terjadi sebelumnya.
3. Pembentukan batasan
kritis untuk tiap CCP
Batasan kritis menandakan
nilai-nilai (dari tertinggi sampai terendah) yang bisa diterima dari sudut
pandang keamanan produk. Bukan berarti hanya menggunakan data angka saja.
Pengawasan juga bisa berdasaran observasi visual, contohnya kontaminasi pada
daging, perubahan warna, perubahan pada struktur produk atau tekstur. Selain
menggunakan indera manusia, batasan kritis berdasarkan angka juga harus
spesifik pada setiap pengukuran dalam CCP. Kriteria yang sering digunakan
adalah suhu, waktu, tingkat kelembaban, pH dan aktivitas air.
Contohnya:
- Pemeriksaan kerusakan secara visual pada material mentah yang datang
- Pemeriksaan kontaminasi secara visual dari material mentah
- Pengendalian suhu pada daging
- pH dari daging yang datang
- Pemeriksaan visual pada saat pemotongan (misalnya pemisahan bagian daging yang mengandung parasit dan bakteri)
- Pemeriksaan kelembaban (Biasanya pada produk hasil fermentasi dimana tidak boleh dijual ketika mencapai batasan kelembaban tertentu)
- Aditif (produk tertentu membutuhkan jumlah garam tertentu untuk mencegah pertumbuhan bakteri, sama juga dengan bahan kimia)
- Pengendalian parameter pasteurisasi
- Pengendalian suhu dan waktu sterilisasi
- Penampilan visual dan tekstur dari produk akhir
4. Pembuatan sistem
pengawasan untuk setiap CCP
Pengawasan dan observasi
pada CCP menentukan apakah produksi sudah mencapai batasan kritis. Prosedur
pengawasan harus bisa mendeteksi kegagalan dalam pengendalian di CCP.
Pengawasan dalam CCP harus memberikan hasil secara cepat supaya bisa
ditindaklanjuti dengan cepat saat proses pengolahan. Analisa dan tes yang makan
waktu lama tidaklah praktis. Karena itu kebanyakan tes pada batasan kritis
hanya tertulis 3, yaitu visual, fisik dan beberapa kimiawi. Tes mikrobiologi
yang lebih lama, tidah bisa menghasilkan tindakan perbaikan yang cepat.
Pola fisik dan kimia yang
bisa dengan instan diukur atau diawasi dalam pengolahan daging adalah:
- Suhu
- Waktu
- pH
- Kelembaban
5. Pembuatan tindakan
perbaikan
Tindakan perbaikan adalah
berbagai tindakan yang harus diambil ketika hasil pengawasan menunjukan bahwa:
- ada CCP yang melewati batasan kritis, atau
- ketika hasil pengawasan mengindikasikan adanya kemungkinan hilangnya kendali
Tindakan yang diambil harus
bisa mengurangi resiko sampai ke titik aman atau menghilangkannya.
Tindakan perbaikan
contohnya adalah:
- Menolak daging yang memiliki suhu internal terlalu tinggi
- Menyesuaikan suhu dari lemari penyimpanan dan pengangkutan daging
- Menghilangkan kontaminasi ringan pada permukaan daging dengan pisau bersih, tapi menolah daging yang terlalu terkontaminasi
- Penyesuaian ukuran memasak dan sterilisasi (suhu dan waktu)
- Menolak daging dengan terlalu banyak pH
- Penyesuaian jumlah dari bahan-bahan pengawet/ curing
- Pada kasus produk fermentasi, jika aw terlalu tinggi, berhenti melakukan pengemasan.
Produk dengan kekurangan
kebersihan yang mencurigakan harus dipisahkan dari produk lainnya. Pengerjaan
tambahan bisa juga dilakukan contohnya tambahan pemanasan dalam kasus daging
masih kurang matang. Penilaian akhir (apakah pantas untuk dikonsumsi atau
tidak) harus dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab dan kompeten.
Interventsi pada CCPs dilakukan berdasarkan observasi instan dari kegagalan
kebersihan. Tindakan perbaikan juga harus dicatat pada cacatan HACCP yang
tertulis.
6. Pembuatan prosedur
verifikasi
Prosedur dibutuhkan untuk
memastikan bahwa HACCP bekerja dengan benar. Perhatian yang khusus harus
diberikan pada frekuensi pengawasan, yang bisa setiap hari atau beberapa kali
dalam sehari dan bahkan bisa lebih sering. Pemeriksaan pada orang yang bertugas
dalam pengawasan juga harus dilakukan secara rutin.
Batasan kritis yang sudah
dibuat bisa diubah tergantung pada perkembangan baru. Keseluruhan sistem untuk
tiap produksi harus ditinjau kembali dalam memperkenalkan perubahan dalam
teknologi pengolahan seperti perubahan pada material mentah, komposisi produk,
peralatan ataupun sistem pengemasan.
Hasil tes diambil langsung
dari pengendalian kualitas GHP, khususnya pada analisa mikrobiologi, adalah
informasi yang berharga di dalam sistem HACCP untuk proses verifikasi dan
membuktikan kepraktisan dari HACCP.
7. Pembuatan dokumen dan catatan
Dokumen dan catatan harus
dibuat sepadan dengan bagaimana bisnis makanan bisa mempraktekkan aplikasi dari
prinsip 1-6. Dokumen-dokumen inilah yang memberikan pihak berwenang untuk
mengevaluasi keberhasilan dari prosedur HACCP dalam pabrik. Catatan juga
berguna untuk mendeteksi penyebab dari masalah yang dihadapi dalam produksi
sebelumnya.
Hal-hal yang termasuk di
dalam dokumentasi ini adalah:
- Sertifikasi pada resep dari material daging mentah dan bahan-bahan yang bukan daging menjelaskan kesesuaian pemasok / supplier dengan spesifikasi pabrik
- Penetapan CCP (dalam setiap produk)
- Batasan kritis yang sudah diatur dan hasil yang didapat untuk setiap CCP (termasuk kemungkinan terjadinya penyimpangan dari batasan kritis kemudian tindakan perbaikannya)
- Penjabaran pada modifikasi dalam sistem jika ada perubahan dalam teknologi ataupun adanya perkembangan lain.
Itulah penjelasan mengenai
HACCP yang meliputi tahapan awal sampai akhirnya. Dari artikel ini kita bisa
belajar bagaimana standarisasi yang dilakukan oleh Favorite dalam memproduksi
berbagai produk olahan daging untuk para pelanggannya. Kita juga bisa
"mempraktekan" HACCP dalam berbagai bidang pekerjaan yang sedang kita
tekuni. Kunci nya adalah mengetahui berbagai resiko yang bisa terjadi dalam
pekerjaan dan pengawasan pada beberapa titik yang beresiko terjadi kesalahan.
Dengan begitu kita bisa sama-sama maju dalam bidang apapun yang ditekuni.
Favorite Meat Processing
Premium Class
100% Halal & HACCP Certified
"When meat gives you inspiration"
Address
Premium Class
100% Halal & HACCP Certified
"When meat gives you inspiration"
Address
Jl. Mertasari 88-89 Sidakarya, Denpasar - Bali, Indonesia
Tlp. 0361 725 378 / 723 666. Fax. 0361 725 372
Sosial Media
Fanpage: Favorite Meat Processing
Instagram: favorite.meat.processing
Website: www.favorite.co.id
Komentar
Posting Komentar